MARHABAN YA RAMADHAN

September 8th, 2007 by andi-chaddi

MARHABAN secara harifiah berarti luas atau lapang. Marhaban
menggambarkan suasana penyambutan tamu yang disambut dan diterima dengan lapang
dada, dan penuh kegembiraan. Marhaban ya Ramadhan (selamat datang Ramadhan),
mengandungi arti bahwa kita menyambut Ramadhan dengan lapang dada, penuh
kegembiraan, dan tidak dengan keluhan. 

Rasulullah sendiri senantiasa menyambut gembira setiap
datangnya Ramadhan. Dan berita gembira itu disampaikan pula kepada para
sahabatnya seraya bersabda: “Sungguh telah datang kepadamu bulan Ramadhan,
bulan yang penuh keberkatan. Allah telah mewajibkan atas kamu puasanya. Di
dalam bulan Ramadhan dibuka segala pintu surga dan dikunci segala pintu neraka
dan dibelenggu seluruh setan. Padanya ada suatu malam yang lebih baik dari
seribu bulan. Barangsiapa tidak diberikan kepadanya kebaikan malam itu maka
sesungguhnya dia telah dijauhkan dari kebajikan” (Hr. Ahmad) 

Marhaban Ramadhan,
kita ucapkan untuk bulan suci ini, karena kita mengharapkan agar jiwa raga kita
diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah swt. 

Perjalanan menuju Allah swt itu dilukiskan oleh para ulama sebagai
perjalanan yang banyak ujian dan tentangan.

Ada

gunung yang harus didaki, itulah nafsu.
Digunung itu ada lereng yang curam, belukar yang hebat, bahkan banyak perompak
yang mengancam, serta iblis yang merayu, agar perjalanan tidak dilanjutkan.
Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, semakin
curam dan ganas pula perjalanan. Tetapi, bila tekad tetap membaja, sebentar
lagi akan tampak cahaya benderang, dan saat itu akan tampak dengan jelas
rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat yang indah untuk berteduh, serta
telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan
akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang musafir bertemu dengan
kekasihnya.

 

Untuk sampai pada tujuan tentu diperlukankan bekal yang
cukup. Bekal itu adalah benih-benih kebajikan yang harus kita tabur didalam
jiwa kita. Tekad yang keras dan membaja untuk memerangi nafsu, agar kita mampu
menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan tadarrus, serta siangnya dengan
ibadah kepada Allah melalui pengabdian untuk agama.

 Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Saudara (i) ku, semoga kita
semua bisa meraih kemenangan dibulan yang mulia ini….

Teruntuk Sahabatku

September 3rd, 2007 by andi-chaddi

Mendadak dunia jadi sunyi.
Rekaman nostalgia kehidupan kita mulai memantulkan gambarnya tepat ke
tembok perenungan didepan kita. Seharusnya tembok itu putih bersih,
tapi apa dikata, guratan-guratan noda telah membuat gambar terlihat
sedikit buram tidak seperti yang seharusnya.

Seketika kita jadi jujur. Sejujur tangisan bayi yang
mengiba. Jujur karna tak ada lagi jalan tuk berdusta, dimana lisan dan
hati enggan tuk berkata palsu. Tiada lagi makna yang relatif, tiada lagi tanda tanya, tiada lagi permainan, tiada lagi kepalsuan. Karena ketika itu tiada lagi kesempatan, yang ada hanya jawaban. Dan satu yang paling menyeramkan; “Tak berguna lagi penyesalan”. Nafas ketika itu begitu mahal hingga akhirnya tak terbeli.
Ketika salah satu dari kita mati.

Semua kita akan melintasi masa itu, sahabat. Masa
dimana kita berpindah dari dunia yang butuh harta dan ini itu ke dunia
lain yang hanya butuh iman. Ya.. Kau yang matanya tengah menatap
guratan kata ini, tak lama lagi. Walau mungkin saja tertunda lebih
sedikit dibanding aku. Atau sangat mungkin lebih cepat. Karena tak ada
kata ‘lama’ disini. Di dunia yang serasa baru kemarin saja kita pertama
kali menghirup udaranya, dan kita harus rela suatu saat udara itu
enggan memenuhi paru-paru kita. Bukan ia tak mau, tapi izin tak
bersamanya. Karena ia tau kita tak butuh udara ketika beranjak ‘pindah’.

Maaf sajalah jika sejenak aku ajak kalian berpindah
alam. Berpindah sejenak dari hiruk pikuk kehidupan yang seringkali
berhasil menipu kita dengan wajah manisnya, ia rayu kita untuk percaya
bahwa kita akan selalu bersamanya.

Bukan maksudku mengajak kalian berputus harapan
dalam kehidupan ini, sehingga nanti jangan-jangan kalian berkesimpulan
‘lebih baik menyepi di sudut hutan setelah mengebiri diri’. Bukan itu
maksudku, sahabat. Yang kuingin hanyalah sebuah penyadaran, bahwa dia
yang menggoda kita sedari dulu itu hanyalah ia yang buruk rupa dan akan
binasa. Sihirnya telah membuat kita tertipu secara kasarnya dan
melupakan sesuatu yang selainnya. Sesuatu yang sejatinya sempurna dan
abadi, namun kebodahan dan tipu daya telah membuat kita meniggalkannya.

Oh… Ternyataa …..

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah
kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan
bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang
lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah
kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (Al-Qoshosh: 77)

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan MATI. dan
Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.
Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka
sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah
kesenangan yang menipu belaka.”(Ali Imran 185)

Seketika kita jadi jujur. Sejujur tangisan bayi yang
mengiba. Jujur kar’na tak ada lagi jalan tuk berdusta, dimana lisan dan
hati enggan tuk berkata palsu. Tiada lagi makna yang relatif, tiada
lagi tanda tanya, tiada lagi permainan, tiada lagi kepalsuan. Karena
ketika itu tiada lagi kesempatan, yang ada hanya jawaban. Dan satu yang
paling menyeramkan; “Tak berguna lagi penyesalan”. Nafas ketika itu
begitu mahal hingga akhirnya tak terbeli.

Ketika salah satu dari kita mati……

Percaya atau Tidak Percaya? bahwa TUHAN itu ADA

July 18th, 2007 by andi-chaddi

Tiba-tiba saya tergugah untuk mencari bukti, dasar, teori atau
penjelasan atau apapun yang dapat memuaskan saya pada sperti pertanyaan
diatas.

semua ini berawal dari saya membaca posting sahabat bloger yang isinya seperti dibawah ini:

Apakah TUHAN itu ada?

Ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri paman Sam
kembali ke tanah air. Sesampainya dirumah ia meminta
kepada orang tuanya untuk mencari seorang guru agama, kiai
atau siapapun yang bisa menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya

Orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut.

Pemuda :  Anda siapa? Dan apakah bisa menjawab
pertanyaan-pertanyaan saya?

Kyai       :  Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda

Pemuda:   Anda yakin? sedang Profesor dan banyak orang
pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya.

Kyai : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya

Pemuda: Saya punya 3 buah pertanyaan

1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada
saya!

2. Apakah yang dinamakan takdir?

3. Kalau syetan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke
neraka yang dibuat dari api,tentu tidak menyakitkan buat
syetan sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan
tidak pernah berfikir sejauh itu?

Tiba-tiba Kyai tersebut menampar pipi si Pemuda dengan
keras.

Pemuda (sambil menahan sakit): Kenapa anda marah kepada

saya?

Kyai : Saya tidak marah…Tamparan itu adalah jawaban saya
atas 3 buah pertanyaan yang anda ajukan kepada saya

Pemuda: Saya sungguh-sungguh tidak mengerti
Kyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?

Pemuda: Tentu saja saya merasakan sakit

Kyai : Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?

Pemuda: Ya

Kyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu !

Pemuda: Saya tidak bisa

Kyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama: kita semua
merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.

Kyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh
saya?

Pemuda: Tidak

Kyai : Apakah pernah terpikir oleh anda akan menerima
sebuah tamparan dari saya hari ini?

Pemuda: Tidak

Kyai : Itulah yang dinamakan Takdir

Kyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk
menampar anda?

Pemuda: kulit

Kyai : Terbuat dari apa pipi anda?

Pemuda: kulit

Kyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?

Pemuda: sakit

Kyai : Walaupun Syeitan terbuat dari api dan Neraka
terbuat dari api, Jika Tuhan berkehendak maka Neraka akan

Menjadi tempat menyakitkan untuk syeitan.

Pencarian Part I

June 9th, 2007 by andi-chaddi

Dalam waktu dekat, sebuah film dari RIRI RIZA berjudul 3
Hari Tuk Selamanya akan di rilis. Walaupun aku belum menyaksikan secara langsug. Namun dari
sinopsis yang aku baca, sudah dapat membanyangkan jalan ceritanya.

 Film tersebut panjang lebar mengupas problema anak muda dalam
menjalani kerasnya kehidupan yang sebenarnya…..korelasi dari itu…..???

Baru saja aku melakukan berjalanan selama 3 hari menelusuri
jejak-jejak masa kecil. Dimana serpihan-serpihan cerita tersebut sedikit
banyaknya memberi warna dalam perjalanan ku sekarang ini…,

 Walaupun tidak semua penggalan cerita dapati, sudah cukup
bagiku dalam membangkitkan sebuah enegi baru dalam diri. Sebuah kesiapan terbangun
,setelah dengan sedikit perjuangan merangkai serpihan-serpihan tersebut kembali.

 Hari itu dimana senyum yang selama ini ku rindukan terasa
kembali terhias diwajah ini. Tapi bukan berarti aku harus berlama-lama didalam
memori masa lalu.

Aku siap…,
Aku kuat…,
Aku senang …,
Aku tercerahkan…,

 Trima kasi untuk semua orang – walaupun aku terkesan agak
aneh – yang mau mengerti atas pencarian ku seutuhnya….

Jilbab? Mengapa?

May 11th, 2007 by andi-chaddi

2337Beberapa saudari ku mengirim message n menulis kan commant di FS ku dimana menanyakan tentang
rata-rata Friend ku yang berjilbab…..,

Jujur saja saya bukan sekedar suka meliahat wanita berjilbab tapi lebih jauh dari itu…semoga saudari ku yang berjilbab telah memahami tulisan ini…

Berbicara tentang jilbab banyak yang bisa dikaji dari situ, seperti landasan hukumnya, bahkan apa pentingnya seorang perempuan
muslimah mengenakan jilbab. Sehingga aku tertarik menulis ini dan mungkin bagus juga kalau sekalian 
agar kita semua bisa sama-sama belajar dan memahami soal jilbab ini….

Jika dilihat secara fisik, mode atau desain dari jilbab itu sendiri sangat
variatif, baik dari segi jenis, cara mengenakan, model, warna, dan seterusnya.
Di jaman sekarang, dalam beberapa hal, jilbab juga sering bergeser menjadi suatu
tren/mode yang tidak hanya dikenakan oleh perempuan muslimah, tetapi juga
mereka-mereka yang belum seiman (baca: perempuan non-muslim).

Berdasarkan apa yang saya ketahui, dasar hukum jilbab ada pada QS An Nuur 31. Mungkin banyak
pula hadist yang meriwayatkan tentang jilbab. Dan, berikut kutipan QS An Nuur 31 tersebut:

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan
pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya,
kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain
kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami
mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka,
atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau
putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan
mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau
pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau
anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka
memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan
bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya
kamu beruntung.

Ada beberapa poin penting yang tersurat maupun tersirat dari ayat tersebut.
Beberapa di antaranya agak ”tricky” sehingga membutuhkan penalaran dan
analisis yang logis untuk memahaminya. Karena memang seperti juga ayat-ayat
lainnya, Allah SWT sengaja tidak membeberkan segalanya secara
gamblang serta terbuka untuk memancing penalaran dan pemikiran kita agar mampu
menganalisis secara jernih dan cerdas.

Analisa pertama ada pada kalimat, ”Hendaklah mereka menahan
pandangannya.
” Kalimat tersebut dapat dipahami secara jelas bahwa
seorang wanita seharusnya bisa menjaga pandangan matanya. Seperti kita ketahui
bersama, sorot mata atau pandangan dari seorang wanita dapat memberi maksud
tertentu dan diartikan lain bagi lawan jenisnya. Hal itu dapat saja kemudian
disalahgunakan atau mendorong pada hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi sangatlah
wajar bila Allah menghimbau agar para wanita menjaga dan
menahan pandangannya
.

Analisa  kedua terdapat pada kalimat, ”hendaklah mereka menutupkan kain
kudung ke dadanya.
” Menurut asal usul sejarahnya, perempuan Arab kala
itu mengenakan jenis pakaian yang relatif terbuka pada bagian (maaf) dadanya.
Kita juga tahu bahwa laki-laki Arab (bahkan hingga kini) mempunyai nafsu seksual
yang relatif besar dan menggebu-gebu. Himbauan untuk menutupkan kain hingga ke
dada dimaksudkan untuk tidak memancing nafsu laki-laki Arab kala itu sehingga
hal-hal yang tidak diinginkan dapat dihindari. Bahkan, perempuan Arab kala itu
juga disarankan untuk tidak bepergian ke luar rumah karena alasan tersebut.

Kemudian, kalimat ”janganlah menampakkan perhiasannya” juga
perlu mendapat perhatian. Kata ”perhiasan” yang dimaksud di
sini adalah sesuatu yang dimiliki oleh seorang wanita dan dibanggakan. Perhiasan
tersebut misalnya paras wajah yang cantik, mata yang indah, hidung, bibir,
rambut, jari-jemari, pergelangan tangan, betis, (maaf) payudara, dan seterusnya.
Perhiasan tersebut seharusnya dijaga dan
dilindungi
, kecuali pada orang-orang yang disebut pada kalimat
selanjutnya.

Sementara itu, titik kritis dari ayat tersebut ada pada kalimat,
pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap
wanita)
”. Jika pada kalimat sebelumnya disebutkan kata-kata suami,
putera, ayah, saudara laki-laki, saudara perempuan, budak, atau anak-anak,
mengapa kemudian Allah menyebut juga kata pelayan laki-laki yang relatif tidak
mempunyai kedekatan atau hubungan darah dibandingkan dengan misalnya suami,
putera, ayah, atau saudara laki-laki dan perempuan?

Pada bagian ini, ”pelayan-pelayan laki-laki” sesungguhnya
dapat merujuk pada suatu kaum, golongan, atau bangsa yang kaum laki-lakinya
relatif menghargai dan menghormati kaum wanita, misalnya di negara-negara Eropa,
atau juga di Indonesia. Di negara ini, relatif kaum laki-lakinya dapat
menghargai wanita dengan baik, bersikap santun terhadap lawan jenis, dan tidak
mengumbar nafsu seksualnya secara serampangan.

Memang harus dibedakan antara aurat untuk sholat
(ibadah)
dengan aurat untuk golongan
(pergaulan)
. Aurat untuk sholat sudah dijabarkan secara jelas dan tidak
perlu diulas di sini. Sementara aurat untuk golongan (pergaulan) adalah aurat
sesuai dengan etika atau nilai yang dianut oleh golongan tersebut. Misalnya di
Indonesia, saya menilai bahwa mengenakan pakaian menutupi dada, pusar, hingga
lengan tangan dan lutut kaki relatif bisa dipandang sopan, wajar, dan menutup
aurat. Tapi untuk kondisi di Arab, mengenakan pakaian semacam itu belum tentu
”aman”.

Terakhir dan masih dipertanyakan hampir sebahagian saudari kita adalah  memakai jilbab itu wajib atau tidak? Hmm.. Saya sudah mencoba
memberikan gambaran dan menjelaskan semampu saya. Saya yakin Anda mampu
menyimpulkan sendiri secara bijak. Saya pribadi sih tidak menuntut (apalagi
memaksakan) saudara perempuan, sahabat perempuan,teman perempuan, bahkan pacar saya untuk berjilbab, walau hati saya lebih menyukai yang
demikian. Tapi yang jelas, tidak mengenakan jilbab pun sesungguhnya tidak
diharamkan. Justru memaksakan orang lain untuk berjilbab
atau memusuhi mereka yang belum berjilbab itulah yang diharamkan.

Hanya saja, mengenakan jilbab bagi seorang wanita bisa mengangkat martabat
dirinya. Bagi dirinya sendiri, mengenakan jilbab juga bermanfaat sebagai sistem
kontrol karena dirinya secara otomatis dituntut untuk bisa selalu menjaga sikap
dan perilakunya secara Islami. Selain itu, laki-laki pun umumnya menjadi
sungkan/segan untuk menjahili atau berbuat yang bukan-bukan pada wanita yang
berjilbab, bukan?

Semoga dengan tulisan ini…saudari-saudari ku yang seiman bisa sedikit bertambah wawasanya…karena sumber pengetahuan semuanya berasal dari Allah dan kita manusia hanya perantara dan dianjurkan untuk saling ingat-mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran…..

070707 is my dream…!!??/

May 8th, 2007 by andi-chaddi

Apabila telah tiba masaku.
untuk segera mengakhiri masa lajangku.
Dengan segenap kemampuan Allah berikan,
Insya Allah janjiku segera kutunaikan.
…….
Namun pernikahan begitu indah kudengar,
membuatku ingin segera melaksanakan.
Namun bila kumelihat aral melintang dihadapan ku.
Hatiku selalu maju mundur dibuatnya.

Sekedar Berbagi Pengalaman

May 4th, 2007 by andi-chaddi

Subject: "Kerja itu cuma selingan, Untuk menunggu waktu shalat…"

Hari ini aku dapat e-mile dari sahabatku, yang cukup menggugah terutama yang selalu mementingkan kepentingan duniawi…..kurang lebih isinya sebagai berikut:

"Kerja itu cuma selingan, Untuk menunggu waktu shalat…"

Ketika Pak Heru, atasan saya, memerintahkan untuk  mencari klien yang
bergerak di bidang interior,  seketika pikiran saya sampai kepada Pak Azis.
Meskipun  hati masih meraba-raba, apa mungkin Pak Azis mampu  membuat kios
internet, dalam bentuk serupa dengan  anjungan tunai mandiri dan dari kayu
pula, dengan  segera saya menuju ke bengkel workshop Pak Azis.

Setelah beberapa kali keliru masuk jalan, akhirnya  saya menemukan bengkel
Pak Azis, yang kini ternyata  sudah didampingi sebuah masjid.  Pak Azispun
tampak awet muda, sama  seperti dulu, hanya pakaiannya yang  sedikit
berubah. Kali ini dia selalu memakai kopiah  putih. Rautnya cerah, fresh,
memancarkan kesan tenang  dan lebih santai. Beungeut wudhu-an ( wajah sering

wudhu), kata orang sunda. Selalu bercahaya.

Hidayah Allah ternyata telah sampai sejak lama, jauh  sebelum Pak Azis
berkecimpung dalam berbagai dinamika  kegiatan Islam. Hidayah itu bermula
dari peristiwa  angin puting-beliung, yang tiba-tiba menyapu seluruh  atap
bengkel workshop-nya, pada suatu malam kira-kira
lima tahun silam. "Atap rumah saya tertiup angin sampai tak tersisa
satupun. Terbuka semua." cerita Pak Azis."Padahal  nggak ada hujan, nggak
ada tanda-tanda bakal ada angin  besar. Angin berpusar itupun cuma sebentar
saja."

Batin Pak Azis bergolak setelah peristiwa itu. Walau  uang dan pekerjaan
masih terus mengalir kepadanya, Pak  Azis tetap merasa gelisah, stres &
selalu tidak  tenang. "Seperti orang patah hati, Ndra. Makan tidak  enak,
tidur juga susah."cerita Pak Azis lagi. 

Lama-kelamaan Pak Azis menjadi tidak betah tinggal di  rumah dan stres.
Padahal, sebelum kejadian angin  puting-beliung yang anehnya hanya mengenai
bengkel  workshop merangkap rumahnya saja, Pak Azis merasa  hidupnya sudah
sempurna. Dari desainer grafis hingga jadi arsitek. Dengan keserbabisaannya
itu, pak  Azis merasa puas dan bangga, karena punya penghasilan tinggi. Tapi
setelah peristiwa angin puting-beliung itu, pak Azis kembali bangkrut,
beliau bertanya dalam hati : "apa sih yang kurang" apa salahku " ?

Akhirnya pak Azis menekuni ibadah secara mendalam "Seperti musafir atau
walisongo, saya mendatangi masjid-masjid di malam hari. Semua masjid  besar
dan beberapa masjid di pelosok Bandung ini,  sudah pernah saya inapi."
Setahun lebih cara tersebut  ia jalani, sampai kemudian akhirnya saya bisa
tidur normal, bisa menikmati pekerjaan dan keseharian  seperti sediakala.

"Bahkan lebih tenang dan santai daripada sebelumnya." 
"Lebih tenang ? Memang Pak Azis dapet hikmah apa dari  tidur di masjid itu
?"

"Di masjid itu ‘kan tidak sekedar tidur, Ndra. Kalau  ada shalat malam, kita
dibangunkan, lalu pergi wudhu  dan tahajjud. Karena terbiasa, tahajjud juga
jadi  terasa enak.
Malah nggak enak kalau tidak shalat  malam, dan shalat-shalat wajib yang
lima itu jadi  kurang enaknya, kalau saya lalaikan. Begitu, Ndra." 

"Sekarang tidak pernah terlambat atau bolong  shalat-nya, Pak Azis ?"

"Alhamdulillah. Sekarang ini saya menganggap bhw yg utama  itu adalah
shalat. Jadi, saya dan temen-temen menganggap kerja  itu cuma sekedar
selingan aja."

"Selingan ?"

"Ya, selingan yang berguna. Untuk menunggu kewajiban  shalat, Ndra."

Untuk beberapa lama saya terdiam, sampai kemudian  adzan ashar mengalun
jelas dari masjid samping rumah  Pak Azis. Pak Azis mengajak saya untuk
segera pergi  mengambil air wudhu, dan saya lihat para pekerjanyapun  sudah
pada pergi ke samping rumah, menuju masjid.   Bengkel workshop itu menjadi
lengang seketika. Sambil  memandang seluruh ruangan bengkel, sambil berjalan
menuju masjid di samping workshop, terus   terngiang-ngiang di benak saya :
"Kerja itu cuma  selingan, Ndra. Untuk menunggu waktu shalat…"

Sepulangnya dari tempat workshop, sambil memandang  sibuknya lalu lintas di
jalan raya, saya merenungi apa  yang tadi dikatakan oleh Pak Azis. Sungguh
trenyuh  saya, bahwa setelah perenungan itu, saya merasa  sebagai orang yang
sering berlaku sebaliknya. Ya, saya  lebih sering menganggap shalat sebagai
waktu rehat,  cuma selingan, malah saya cenderung lebih  mementingkan
pekerjaan kantor. Padahal
sholat yang akan bantu kita nantinya…(sungguh saya orang yang merugi..)

Kadang-kadang waktu shalat  dilalaikan sebab pekerjaan belum selesai, atau
rapat dengan klien
dirasakan tanggung untuk diakhiri. 
Itulah penyebab dari kegersangan hidup saya selama  ini. Saya lebih semangat
dan habis-habisan berjuang  meraih dunia, daripada mempersiapkan bekal
terbaik  untuk kehidupan kekal di akhirat nanti.
padahal dunia ini akan saya tinggalkan..juga ……….kenapa saya begitu
bodoh..

Saya lupa,  bahwa shalat adalah yang utama.
Mulai saat itu saya berjanji untuk mulai shalat di awal waktu..

Kalau Anda tidak mengirimkan email ini ke temen Anda..ya ga papa sih. Cuma
kalo dikirim mungkin ada gunanya bagi mereka gitu loh.

* * *

Buat Mereka Yang Merasa Teman, sahabat, dan saudaraku

March 1st, 2007 by andi-chaddi

tangis kini menderai dan berlomba untuk menyentuh tanah.
maafkan kanda yang terlalu larut dalam kesibukan duniawi. maaf jika kanda tak sengaja menutup sinar rembulan sehingga tak
penuh lagi menerangimu, maaf jika tak sengaja kanda torehkan rindu yang
berwewangian kegelisahan dan isak tangis akan kesendirian. kamu tak akan pernah
sendiri karena doaku untumu adalah udara yang kuhirup setiap kalinya, dan
sayangku untukmu adalah nafas yang terhembus setiap kalinya. hanya akan berhenti
jika aku temui ajal yang telah terpatri dalam buku besar hidup manusia di
tanganNya.

maafkan aku jika sinarku tak sempat bangunkanmu di
pagi hari. maafkan jika daun-daun penuh cinta terlambat dan terhambat untuk
hinggap di jendela kamarmu, juga maafkan aku jika suara bisian cinta dariku tak
dapat kau lihat sebagai sinar bintang di awan sana karena tertutup mega. sungguh aku
menangis ketika kalian semua seperti hilang ditelan bumi. maafkan aku.

jangan pernah padam semangat hidup ini ,karena jika hilang
maka telah padam api nafasku yang akan membuatku terlalu cepat
meninggalkan dunia. sirami terus buanga yang kini tampak layu agar esok pagi
dapat kau lihat bahwa dia akan kembali bermekaran dan tebarkan wewangian yang
akan ingatkan kau kepadaku.

aku kepakkan sayapku untuk mencintaimu
aku pijakkan kakiku di bumi untuk mencarimu
dan aku gumamkan namamu untuk tutup hariku 

saat malam menjamah bumi aku lihat setitik cahaya terpendar
dengan indah, gelap itu menjadi temaram dan lama kemudian menjadi terang. aku
pikir itu bintang yang memang dengan setia akan selalu menggantung di langit
untuk temani perjalanan bulan arungi malam, aku salah, karena bintang timbul
dan tenggelam di hari-hari berikutnya. aku lihat sinar itu tetap ada menghias
angkasa seiring waktu yang berjalan dari shubuh hingga tengah malam. aku tanya
apakah orang lain dapat melihatnya dan mereka menggelengkan kepala. aku
tersenyum saat kutahu ia hanya bersinar untukku saat ini tapi entah nanti.
setidaknya kini di saat aku masih bernafas dan dapat merasakan hidup maka semua
itu sudah cukup. ia temani perjalanan nafas dan ia bantu aku untuk menapak kaki
di setiap tanah yang harus kupijak. Aku sebut ia "nafas" karena telah
berhasil menyelusup ke dalam sanubari, ku bayangkan ia darah karna telah
berhasil memompa jantungku untuk berdetak. tahukah mengapa Tuhan hanya ciptakan
1 hati untuk kita?

 Teman, sahabat, dan
saudaraku

Jalan panjang membentang luas, jalan
yang tidak sepi dari ujian dan cobaan. Itulah hakikat jalan kehidupan ini, yang
tidak bisa di pahami sifatnya kecuali bagi mereka yang sudah melalang buana
dalam pahit dan getirnya kehidupan.
Kehidupan memberikan kita penuntutan untuk saling mengenal satu sama lain agar
dapat hidup berdampingan dengan damai.